Jumat, 28 November 2014

Cerpen "Akas Pembuat Mokas"



Akas Pembuat Mokas

“Pak, aku ikut ya?” rajuk Akas.
Bapaknya menggerenyitkan dahi sambil memandang curiga.
“Kamu mau bolos sekolah?”
“Enggak! Nanti aku bawa baju ganti terus langsung sekolah!” ujar Akas menegaskan alasannya.
Bapak yang menyiapkan keranjang di boncengan belakang sepeda ontelnya menghela nafas panjang. Dipandangnya Akas dengan pandangan sayang.
“Kamu nggak malu? Bagaimana kalau teman – temanmu meledekmu?”
“Tidak apa – apa, Pak. Akas bangga kok jadi anak Bapak.”
Bapak tersenyum senang. Iya, siapa yang tak bangga mempunyai Bapak seperti Pak Nardi, seorang pemulung yang baik hati. Bukankah dengan menerima segala sampah rumah tangga berarti ikut menjaga kebersihan dunia?
“Baiklah, tolong ambilkan bekal makan siang Bapak di Emak, sekalian minta tambah buat jatahmu nanti.” Timpal Bapak cepat memberi perintah..
“Siap, Pak!” tukas Akas ceria.
Bergegas Akas mencari Emak di dapur dan menyampaikan pesan Bapak. Emak juga sempat khawatir dengan keinginan Akas ikut Bapak memulung hari itu, namun setelah melihat keteguhan Akas, Emak pun mengangguk – anggukkan kepalanya dengan haru.
*****
Pernah satu kali ketika baru masuk SD, Akas pulang dengan airmata berderai. Ketika Emak bertanya kenapa? Ada temannya yang meledeknya sebagai anak tukang rombeng. Sejak saat itu Emak sepakat dengan Bapak untuk tak lagi mengajak Akas pergi memulung.
“Boleh Emak tahu kenapa kamu pengen ikut Bapak, Nak?”
“Kata Bu guru, kita harus bangga dengan pekerjaan orangtua kita, karena dengan pekerjaan itulah orangtua kita menghidupi keluarga kita. Akas pikir apa salahnya Akas ikut untuk membantu Bapak memulung.”
Emak mengangguk senang. Akas sudah kelas tiga. Setiap hari ia juga membantu menyortir sampah di rumah, namun kalau ikut? Baru kali ini Akas mencetuskan keinginannya sejak masuk Sekolah Dasar.
“Boleh Emak tahu sebenarnya kamu ingin apa?” Tanya Emak sambil menghulurkan bekal makan siang.
Akas tersenyum, “Emak ngerti ya?”
Giliran Emak yang terkejut, “Tebakan Emak benar, ya? Kamu ingin sesuatu makanya pengen ikut Bapak.”
“Akas pengen bisa nyari uang sendiri. Akas ingin punya mobil-mobilan.”
Bibir Emak membulat, Akas tersenyum dan berlari keluar.
“Jangan bolos sekolah!” Terdengar teriakan Emak mengejar Akas.
*****
“Kardus bekas air kemasan sekilo berapa, Pak?” Tanya seorang ibu berbadan lebar sesaat setelah Bapak memenuh panggilannya.
“Sebelas ribu!”
“Apa gak bisa lima belas?”
“Hwaduh Bu, coba dibawa sendiri aja ke gudangnya Pak Karto!”
“Ya, sudah! Sebelas juga gak apa-apa. Sudah sumpek rasanya lihat banyak kardus berserakan.”
“Ditimbang dulu kardus bekasnya, Bu!”
Bapak sibuk mengumpulkan kardus dan mengikatnya, setelah itu Bapak mengeluarkan timbangan dan mulai menimbang.
“2 kilo, Bu!”
“Aduh, enam belas kardus kok Cuma dua kilo, sih!”
“Rata – rata sekilo berisi enam sampai delapan kardus bekas air kemasan, itu tergantung dari tebal tipisnya kardus, Bu! Mau atau tidak saya bayar dua puluh dua ribu?”
Akhirnya kardus bekas itu pun berpindah tangan ke Bapak. Akas menghitung, dua puluh dua ribu dikeluarkan Bapak untuk dua kilo kardus bekas.
“Kalau di gudang Pak Karto laku berapa, Pak?”
“Sekilo  lima belas ribu!”
Akas menghitung dalam hati, lima belas ribu dikurangi sebelas ribu, sisa empat ribu rupiah, kalau dikali dua jadi delapan ribu. Aduh! Truk mainan yang seperti punya Rizki itu harganya tiga puluh ribu. Hasil kerja Bapak berapa lama untuk beli mobil truk itu.
Setengah hari Bapak mengajaknya berkeliling, setelah setor ke gudang Pak Karto, Bapak mengajaknya sholat dhuhur di dekat sekolahnya sambil menghabiskan bekal dari Emak.
“Makan yang banyak biar kenyang, nanti di sekolah kamu tak perlu jajan lagi!”
Akas memandang Bapak dengan sayang, setengah hari menemani Bapak, mereka dapat uang delapan ribu. Ah, selamat tinggal mobil truk!
“Boleh Bapak tahu apa yang kamu pikirkan?”
“Sebenarnya Akas ingin punya mobil truk, tapi Akas sadar itu tak mungkin, Harganya mahal kan Pak?”
Bapak termenung, seutas senyum terbit di sudut bibirnya. “Bagaimana kalau besok Bapak mengajarkan sesuatu padamu?”
“Mau, Pak! Mau!”
“Sekarang waktunya kamu pergi sekolah. Bapak harus mengumpulkan bahan – bahannya.”
*****
Keesokan pagi Bapak dan anak itu asyik mengerjakan sesuatu di teras rumah. Ada kardus bekas televisi yang cukup tebal, ada pisau, lem, bekas stik mi, dan plastik mika tebal bekas tempat kue.
Setelah membuat pola, Bapak mulai memotong kardus, menempel dengan lem, dan sungguh cekatan. Bapak selesai dalam waktu satu jam. Terlihat mobil truk dari kardus bekas karya Bapak. Akas tersenyum senang!
“Aku akan belajar membuatnya, Pak. Nanti aku jual ke teman – temanku, boleh?”
Bapak tersenyum mengamini ucapan Akas. Sejak saat itu Akas terkenal sebagai pembuat mokas (mobil kardus bekas) di antara teman – temannya. Banyak teman yang memesan padanya untuk dibuatkan mobil serupa. Akas menjualnya dengan harga lima belas ribu rupiah. Kalau bahannya menghabiskan kardus satu dengan harga dasar dua ribu, bukankah Akas sudah belajar menjadi seorang pengusaha mokas?

PPMI Malang Raya => Deklarasi 2013


PPMI Malang Raya Sudah satu tahun 4 bulan kehadirannya di Malang Raya, mencoba berbagi dalam komunitas kecil yang berharap mampu menebar manfaat bagi masyarakat. Monggo yang memerlukan dakwah bagi anak kecil, kami siap berbagi bahagia dalam koridor agama, Insyaalloh.... Call Us on 085700018790 (Kak Mora)

Kembali Menulis => Bismillahirrohmaanirrohiiim....

Menulis kembali adalah suatu ke-‘niscaya’-an setelah hampir dua tahun tersibukkan dengan begitu banyak ‘perjalanan’ yang menguras fisik dan ‘kesehatan’.

Hanya ‘kebugaran’ yang dipertahankan dengan memetakan kekuatan fisik yang tak seberapa (permaafan diri akan sebuah kemalasan), maka untuk sesaat ‘menulis’ kembali tenggelam. Aku melihatmu di dasar kolam (ahahahaiiii….) kehidupan. Aku akan menjamahmu untuk memanjangkan usiaku dalam ‘kebaikan’ (bila Alloh izinkan). Amiiin….

Mengenang segenap orang ‘baik’ yang telah sengaja dan tak sengaja menjadi guru-ku dan meng-‘guru’-iku, sungguh terimakasih tiada terhingga atas semuanya. Aku belum hebat, tapi cukuplah aku menghebatkan diri dengan segenap upaya dan kesungguhanku meskipun di penghujung keterbatasanku. Alloh maha tahu dengan segala ‘kepayahan’-ku, maka ‘kesungguhan’ itu akan membayar segenap karuniaNYA, meskipun belum secuil dari semua nikmatNYA.

Maka guru pertamaku adalah Mamaku…. Wajah teduh yang senantiasa ramah pada siapapun, bahkan kala hatinya harus tercabik luka, aku menyayanginya, menghormatinya, dan semoga apa yang kulakukan tak menorehkan ‘luka’ pula padanya. Mama mengajarkanku tetap santun berbicara meski ingin ‘marah’, tetap ‘anggun’ bersikap meski harus ‘muntah darah’. Mama adalah pahlawan yang selalu ada, bahkan -meski- tak selalu membersamaiku. Maka mama laksana pijakan bumiku berdiri untuk terus mengenal Tuhanku dan menjadikan hidupku sebaik-baik manusia dalam janjiNYA….

Dan guru keduaku adalah Papiku…. Usianya yang menua tak menyurutkan semangatnya sebagai ‘singa’. Papi mengajarkanku tentang ‘ksatria’, papi mengajariku menelaah makna. Teman ‘diskusi’ hebat yang telah lama tak lagi punya waktu berdebat. Aku menyayanginya seperti ia menyayangiku sebagai anaknya, meski sering kulihat sorot mata ‘kecewa’. Tak apalah jika aku belum mampu menjadi ‘harapan’mu, tapi aku akan terus bersungguh-sungguh dalam ‘kebaikan’-ku yang tak seberapa….

Guru ketigaku adalah Bu Kartini Bu Kartini adalah guru pertama di RA Baitul Mu`minin. Wanita paruh baya yang sabar dan bersahaja. Mengenalkanku pada huruf-huruf dan angka-angka bersama teman-teman sebaya. Senyum ramahnya, suara lembutnya, dan juga kesungguhan serta ketulusannya, semoga berbuah surga, amiiin….

Dan masih banyak lagi guruku yang lain yang telah menanam kebaikannya padaku. Semoga kebaikan kalian yang kuteruskan akan terus menuai pahala (Bersambung Insyaalloh….)

Senin, 24 November 2014

Surat untuk Ibu dan Bapak Guru dari Mendikbud

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan yang berlatar akademisi nampak begitu dekat dengan Guru. Kelihatan bahwa Beliau mempunyai keterikatan emosional yang begitu dalam dengan Bapak dan Ibu Guru. Sosok yang dulu sebagai Rektor Universitas Paramadina ini memang sejak sekian lama selalu memberikan motivasi maupun saran terhadap perkembangan Pendidikan di Indonesia. infoguruterbaru.com Dalam rangka Hari Guru ini Beliaupun tak lupa memberikan surat untuk Bapak Ibu semua. Semoga saja dengan surat dari Pak Menteri kepada Bapak dan Ibu Guru di seluruh tanah air menjadi lebih termotivasi dan bisa semakin baik, baik dan baik lagi dalam membentuk generasi masa depan bangsa. Tak hanya itu, kami semua para Guru tak pernah bosan untuk selalu berharap kepada Bapak Menteri untuk selalu meningkatkan kwalitas Pendidikan di Indonesia. Baik dari segi SDM, infarstruktur maupun kesejahteraan bagi ujung tombak dunia pendidikan di Indonesia. Berikut ini Surat dari Bapak Menteri kepada Bapak dan Ibu Guru Surat untuk Ibu dan Bapak Guru dari Mendikbud * Ibu dan Bapak Guru yang saya hormati dan muliakan, Semoga Ibu dan Bapak Guru dalam keadaan sehat, bahagia, dan penuh semangat saat surat ini menemui Ibu dan Bapak sekalian. Seiring dengan peringatan Hari Guru ini, atas nama pemerintah, saya menyampaikan apresiasi kepada Ibu dan Bapak Guru semua yang telah mengemban tugas mulia serta mengabdi dengan hati dan sepenuh hati. Izinkan saya dengan rendah hati menyampaikan rasa hormat, rasa terima kasih, dan rasa bangga atas pengabdian Ibu dan Bapak sekalian. Menjadi guru bukanlah pengorbanan. Menjadi guru adalah sebuah kehormatan. Ibu dan Bapak Guru telah memilih jalan terhormat, memilih hadir bersama anak-anak kita, bersama para pemilik masa depan Indonesia. Ibu dan Bapak Guru telah mewakili kita semua menyiapkan masa depan Indonesia. Mewakili seluruh bangsa hadir di kelas, di lapangan, bahkan sebagian harus mengabdi dengan fasilitas ala kadarnya demi mencerahkan dan membuat masa depan yang lebih baik untuk anak-anak kita. Saya ingin menggarisbawahi bahwa persiapan masa depan bangsa dan negara Indonesia ini dititipkan pada Ibu dan Bapak Guru. Saya menyadari masih banyak tanggung-jawab pemerintah pada Guru yang belum ditunaikan dengan tuntas. Kita harus mengakui bahwa bangsa ini belum menempatkan guru sebagaimana seharusnya. Guru memiliki peran yang amat mulia dan amat strategis. Saya percaya bahwa cara kita memperlakukan guru hari ini adalah cermin cara kita memperlakukan persiapan masa depan bangsa ini. Kita harus mengubah diri, kita harus meninggikan dan memuliakan guru. Pemerintah di semua level harus menempatkan guru dengan sebaik-baiknya dan menunaikan secara tuntas semua kewajibannya bagi guru. Pekerjaan rumah pemerintah, di semua level masih banyak, mulai dari masalah status kepegawaian, kesejahteraan, serta hal-hal lainnya yang berhubungan dengan guru harus dituntaskan. Meskipun demikian, dibalik semua permasalahan yang ada, pendidikan harus tetap berjalan dengan baik. Di pundak Guru, Pendidik dan Tenaga Kependidikan, ada wajah masa depan kita. Setiap hari Ibu dan Bapak Guru menemui wajah masa depan Indonesia, dan di ruang-ruang kelas itulah anak-anak bersiap bukan saja untuk menyongsong tetapi juga untuk memenangkan masa depan. Hari-hari di depan kelas tentu menyedot energi. Anak-anak yang menuntut perhatian. Tugas-tugas Guru yang menumpuk. Masih banyak ruang kelas yang tak memadai, fasilitas belajar yang ala kadarnya, atau suhu udara yang tidak selalu bersahabat, ibu dan bapak guru yang saya hormati, teruslah hadir membawa senyum; berbekal kerahiman, songsonglah anak-anak bangsa ini dengan kasih sayang; hadirlah dengan hati dan sepenuh hati. Kita semua sadar bahwa pendidikan adalah ikhtiar fundamental dan kunci untuk kita dapat memajukan bangsa. Potensi besar di Republik ini akan dapat dikembangkan jika manusianya terkembangkan dan terbangunkan. Kualitas manusia adalah hulunya kemajuan dan pendidikan adalah salah satu unsur paling penting dalam meningkatkan kualitas manusia. Pada kesempatan ini saya mengajak kita semua untuk melihat pendidikan bukan semata-mata urusan negara, urusan pemerintah. Tanpa mengurangi peran negara, karena negara masih harus menyelesaikan tanggung-jawab yang belum tuntas dan meningkatkan kinerjanya, saya mengajak semua warga bangsa Indonesia untuk ikut bekerja sama demi masa depan Indonesia yang lebih baik. Ya, secara konstitusional mendidik adalah tanggung jawab negara, tetapi secara moral mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Saya mengajak semua kalangan, mari terlibat untuk membantu sekolah, guru, madrasah, balai belajar, dan taman belajar. Kita terlibat untuk mendorong kemajuan pendidikan. Untuk itu pula, kepada Guru, Kepala Sekolah, dan Tenaga Kependidikan mari kita bukakan pintu lebar-lebar. Kita mengajak dan memberi ruang kepada masyarakat untuk ikut terlibat, memikirkan, dan berbuat untuk kemajuan dunia pendidikan kita. Ibu dan Bapak Guru yang saya muliakan, Potret Indonesia hari ini adalah potret hasil dunia pendidikan di masa lalu. Potret dunia pendidikan hari ini adalah potret Indonesia masa depan. Jadikan rumah kita dan sekolah kita menjadi zona berkarakter mulia. Izinkan anak-anak kita merasakan rumah yang membawa nilai kejujuran. Izinkan anak-anak kita merasakan sekolah yang guru-gurunya adalah teladan. Biarkan anak-anak kita mengingat Kepala Sekolahnya dan seluruh Tenaga Kependidikan di sekolahnya sebagai figur-figur bersih dan terpuji karakternya. Bayangkan Ibu dan Bapak Guru yang terhormat, kelak anak-anak kita akan hidup di era baru. Mereka hidup di era yang korupsi sudah dianggap sebagai sesuatu yang basi, sesuatu yang bukan lagi kelaziman, dan tidak semata-mata dipandang sebagai persoalan pelanggaran hukum, tetapi lebih dari itu korupsi menyangkut persoalan harkat dan martabat kemanusiaan. Pada suatu saat, ketika anak-anak kita, murid-murid itu telah dewasa dan berkiprah di dalam masyarakat, mereka kelak bisa bertutur, "Saya belajar jujur, dan belajar integritas dari Guru". Seraya, nama Ibu/Bapak Guru disebut. Ibu dan Bapak Guru mungkin saja tidak mendengar langsung ucapan-ucapan itu, tetapi yakinlah bahwa melalui anak didik yang meneladani Ibu/Bapak Guru itulah aliran pahala untuk Ibu dan Bapak tidak akan pernah berhenti. Pahala yang tiada henti-hentinya melalui anak-anak didik yang menjadi manusia berkarakter mulia, yang menjalani hidup dengan kejujuran dan berintegritas. Karakter memang tidak cukup diajarkan melalui lisan dan tulisan. Karakter diajarkan melalui teladan. Oleh karena itu, Ibu dan Bapak Guru yang saya muliakan, jadilah figur-figur yang diteladani oleh murid-murid dan lingkungannya. Akhirnya, kepada seluruh Guru, Pendidik dan Tenaga Kependidikan, saya sampaikan apresiasi. Sekali lagi, atas nama pemerintah, saya sampaikan terima kasih. Ikhtiar mulia ini harus kita teruskan. Suatu saat kelak, Ibu dan Bapak Guru dapat melakukan refleksi atas apa yang sudah dijalani sambil bersyukur bahwa di saat Indonesia sedang mengubah wajahnya menjadi lebih baik, lebih bersih, lebih jujur, lebih cerdas, lebih kreatif, dan lebih cerah, Ibu dan Bapak Guru memegang peran penting. Kelak Ibu dan Bapak dapat berkata, "Saya disana, saya terlibat. Sekecil apapun saya ikut mendidik generasi lebih baik. Saya ikut melahirkan generasi baru dan ikut berkontribusi membuat wajah Indonesia yang lebih cemerlang, dan membanggakan." Selamat meneruskan pengabdian mulia, selamat menginspirasi, dan Selamat Hari Guru. Salam hangat, Anies Baswedan

Memoir buat “Mbak Ratna Indraswari Ibrahim”

Lama aku kembali terlelap sehingga segala fisik terasa begitu lelah dan hampir saja merasa ‘kalah’. Namun entah malam ini, serasa begitu syahdu…. Aku mengingatimu mbak! Alfatihah…. Mengenalmu ketika SMA dimana aku belum ‘mengenal diriku’, bukanlah suatu kesia-siaan. Hadiah yang kau berikan terus melekat dihatiku, meskipun entah dimana obyeknya sekarang. Bukan, iya bukan benda mbak, namun ketulusanmu yang benderang malam ini, semoga Alloh menempatkanmu dalam surga terbaiknya, amiiin…. Aku suka menulis, sejak kecil! Ada banyak catatan kecil sesobek dua sobek yang kutemukan kala bebersih rumah. Harta benda berupa ‘tulisan’ itu adalah teman yang selalu mampu menyalurkan ‘kemarahan terpendam’ masa kecilku. Ya, sejak kecil aku memendam sejuta kemarahan yang tak tahu harus dibuang kemana. Aku menulis bersayap karena aku tak ingin ada yang tahu kepada siapa sebenarnya kutunjukkan perasaanku. Aku marah, aku benci, aku iri, aku cemburu, aku malu, aku merasa tak mampu dengan segala hal yang kusandang. Dunia seakan selalu memojokkanku. Dengan mengenalkanmu, mungkin ayah berharap aku bisa besar sepertimu, aku menjadi bermanfaat sepertimu, dan mungkin (kala itu) ayah berharap aku mampu menuang kemarahanku dengan cantik dalam lembar-lembar tulisanku. Mbak, aku belum bisa sepertimu, tapi ‘nyala’ itu memantik kembali dihatiku. “Dek, menulislah dari yang paling dekat, ubahlah dengan sedikit imajinasimu….” Maka akupun mulai menulis. Segala kemarahan meruap, merayap keluar mengisi begitu banyak tempat. Lahirlah cerpen “PULANG”, aku sangat ingin pulang saat itu. Aku ingin menjadi manusia yang ‘utuh’, apa adanya tanpa kepura-puraan, aku ingin menjadi ‘aku’ yang bisa dengan bebas melanggar norma-norma social. “Bagus, Dek! Terus menulis ya….” Itu kalimat pertama darimu yang sudah melanglang buana ke penjuru dunia. Aku ingin sepertimu Mbak. Keliling dunia dengan tebaran manfaat. Namun, rasa malu dan ketidakmampuan ‘mengenal diri sendiri’ itu kembali meninabobokkanku. Aku pun lelap…. Kembali menulis adalah panggilan jiwa, terapi yang bisa membuat kita kembali bertenaga. Maka lahirlah satu persatu tulisanku, meski belum semua mampu menembus media, namun itu telah memenangkanku ‘mengenali diri’, menenangkan kemarahanku agar aku menjadi manusia yang lebih baik lagi. Saat ini aku tengah berjalan menuju "rumah"-ku semoga rumah itu berdekatan denganmu. Semoga kelak akupun bisa sepertimu meski di jalur yang berbeda. BE YOURSELF Maturnuwun Mbak Ratna, semoga kau bahagia disana…. Alfatihah….

Rabu, 29 Agustus 2012

Curhatan Nasuha ^_^


Ketika Alloh “menegur”-ku

Selasa, 28 Agustus 2012

Hari ini tak ada yang istimewa, seperti hari-hari biasa yang kulewati dengan segala ragam kesenangan dan “tekanan” yang biasa pula kurasakan.
Pagi setelah membersihkan sekolah di tempatku mengabdikan diri, pulang ke rumah berkutat dengan setumpuk pekerjaan rumah tangga, dan di tengah hari bersiap dengan perjalanan untuk “takziyah” di daerah Beji – Batu.
Kami pun meluncur bersama kedua saudara perempuanku dan Mamaku, bertakziyah sebentar dan aku pun memilih melanjutkan sendiri karena akan ada acara bersama keluarga suami ba’dha Maghrib, menuju alun-alun kota Malang.
Turun dari LDG, aku bersiap memasuki masjid Jami’ kota Malang, meniatkan hati untuk sholat Ashar. Kugandeng tangan si kecil dengan penuh pengharapan bahwa kelak ia akan mencintai masjid dan akan menjadi satu dari sekian hambaNYA yang memakmurkan masjid, amin Insyaalloh….
Tidak satu atau dua kali, berkali-kali kami sholat di masjid itu dan tak terjadi apa-apa, namun hari itu….
Anakku mulai menunjukkan gejala akan pipis, kutarik ke belakang ternyata kata pengunjung lain toilet pindah ke dekat ruang wudlu, kuseret anakku dengan cepat sambil memberikan motivasi, “sabar, tahan! Sedikit lagi….”
Dan….
Jebollah pertahanan anakku hingga dia pipis di celana, aku kaget dan tercenung sejenak, dia “ngompol” di dekat kotak untuk membasuh kaki di garis luar yang dekat tempat peminjaman mukena.
Dengan sigap aku berlari ke pengurus masjid yang menjaga mukena dan berkata, “Ma’af, anak saya pipis di dekat kullah, apa yang harus saya lakukan untuk membersihkannya?”
Panik! Itu yang saya rasakan….
Di saat panik itu saya dengar satu suara ibu-ibu penjaga kamar mandi, “Bu, anaknya ngompol di masjid, najis! Bikin najis semesjid dan blab la bla bla….”
Sampai saya dengar ‘adzab Alloh dibawa-bawa. Maka saya pun meledak! Saya menangis di depan orang se-mesjid, dan masih ditambah lagi,“Nguras iku seng soro, makanya kalau punya anak kecil dijaga, jangan sampai ngompol di masjid!”
Saat itu saya marah, saya pandang orang itu, saya yang tak pernah suka bertengkar akhirnya menyahut, “Saya akan tanggung jawab membersihkannya, dia anak saya, marahi saya saja! Nggak usah adzab Alloh dibawa-bawa!”
Namun ada suara baik menolong saya, “Bu, saya bantu…. Anaknya diurus dulu. Dilepas celananya masukin kresek dan dicebokin.”
Saya bawa si kecil masuk ke tempat wudlu, saya lepas celananya sambil terus menangis (entah apa yang saya rasakan saat itu….). Saya cebokin dan berpesan, “Kamu diam disini sampai bunda kembali….”
Entah teguran apa yang dilewatkan Alloh melalui mulutnya, wanita itu terus menceracau di ruang wudlu.
“Demi Alloh, saya kesini berniat sholat. Dan tak ada kesengajaan anak saya buat pipis sembarangan.”
Saya pun kembali ke kullah tempat si kecil tak sengaja ngompol. Seorang ibu yang baik telah membantu saya menyiram bekas pipis si kecil, saya bilang “Maaf Bu, dia anak saya biar saya bertanggung jawab.”
Akhirnya si Ibu yang baik memberikan selang air dan sikat pada saya. Saya pun bekerja dengan deraian air mata, …. Adzab Alloh? Apa hubungannya dengan si kecil pipis (tanpa sengaja) sama adzab Alloh? Telinga saya panas, begitu juga dengan hati saya. Ibu yang menegur dengan cara “tak ramah” (semoga Alloh mengampuni kita, menjernihkan hatiku yang panas karena dipantik kata-katanya)
Seorang Bapak pengurus masjid jami’ agung kota Malang datang dan bertanya, “Ada apa?”
Saya yang sedang panas hati menjawab, “Anak saya pipis tanpa sengaja dan saya akan bertanggungjawab membersihkannya, cukup ajari saya gimana membersihkan kullah ini.”
Mungkin karena hawa “panas” yang saya bawa, bapak itu pun menjawab, “Bu, ini rumah Alloh jangan marah-marah disini! Ibu ini dibantu kok malah marah-marah?”
“Caranya menegur yang saya tidak terima!” tukas saya cepat.
Setelah selesai dengan menyiram bekas pipis si kecil dan menguras kullah dengan perasaan tak karuan, akhirnya Bapak pengurus masjid itu berkata, “Sudah Bu, ditinggal aja biar kami yang menyelesaikan.”
Dengan perasaan malu tak karuan saya kembali pada si kecil, ada keinginan memarahinya, namun saya takut itu akan mengecilkan hatinya dan membuatnya “trauma” masuk masjid. Bagaimana mungkin seorang muslim trauma masuk masjid karena kejadian “sepele” seperti itu? Ya, taruh kata bukan sepele, bukankah ada cara yang lebih baik untuk mengingatkan saya sebagai ibunya?
Akhirnya setelah bicara panjang lebar dengan si kecil, si kecil saya pakaikan jaket saya yang kebesaran untuknya sambil berusaha menenangkannya. Beruntung dia tidak menangis kencang karena akan menambah kepanikan saya. Sesekali dia menatap saya dengan pandangan “memelas” yang menghancurkan hati saya sebagai bundanya.
“Malu….” Dia terdiam sebentar dan kembali berkata, “malu….”
“Kakak anaknya Bunda, apa pun itu Kakak anaknya Bunda. Ayo sekarang kita pergi dari sini dan tunggu ayah jemput kita di alun-alun.
Dengan tanpa celana si kecil saya gendong keluar dari ruang wudlu (alhamdulillahnya auratnya tertutup karena memakai jaket saya yang gedombrongan). Saya harus menjauhkannya dari pandangan orang lain yang akan menghancurkan konsep dirinya. Saya keluarkan uang, “Saya ganti rugi jika saya dianggap merugikan, saya minta maaf Pak! Mungkin hari ini saya tak boleh sholat disini.”
“Disini rumah Alloh, jangan marah-marah, Bu!”
“Saya tahu, yang saya tidak terima cara menegur saya, tidaklah perlu sampai adzab Alloh dibawa-bawa.”
Saya pun pergi, ibu itu (siapa pun nama Anda), apa tak pernah punya anak kecil? Tapi terimakasih telah membantu saya menangis dan kembali berkaca tentang “kedirian” kita sebagai hamba.
Bandingkan dengan ini….
Di toko buku, saya pernah melihat seorang anak mengompol, ibunya membersihkan bekas ompol si anak dan penjaga toko tanpa banyak bicara melanjutkan dengan mengepel lantainya.
Di sekolah, ketika seorang anak menangis malu karena mengompol seorang guru menenangkannya dengan kasih sayang, membantunya membersihkan diri dan memberikannya pakaian ganti.
Di masjid? Tak seorang pun membantu anak saya ketika harus berdiri sendiri di ruang wudlu (bahkan saya khawatir ibu itu pun masih menceracau di depan si kecil), apakah kita sudah muslim Bu?
Di alun-alun….
“Kenapa bisa kakak pipis di celana?”
Si kecil hanya menjawab patah-patah, “Malu…. Malu….”
Hatiku semakin hancur melihatnya. Sekuat mungkin kutahan aku tak boleh marah, ini pengalaman pertama kami mengalami hal ini.
“Bunda nangis?”
“Bunda sedih, malu karena tak bisa mengurus kakak dengan baik….”
“Aku malu….”
“Kalau malu kenapa tak bisa (ngempet) menahan?”
“Aku sudah gak kuat….”
Maka tanpa mampu kubendung, maka menangislah sepuas-puasnya tanpa memperdulikan pandangan orang yang lalu lalang.
Maka hikmah itu….
Tak ada seorang pun yang menyiapkan diri untuk sebuah “teguran”, maka setelah semalaman “menangis” sambil mengaca diri, maka saya putuskan menulis kisah ini dan berbagi disini agar pengalaman saya ini bisa jadi “pelajaran” buat semuanya.
Untuk saya, semoga saya lebih berhati-hati menjaga si kecil dalam masa perkembangannya.
Untuk teman-teman lain juga.
Untuk pengurus masjid semoga bisa menegur “pelaku” (anggap saja begitu) dengan lebih sopan dan beradab. Semoga Alloh memberikan ampunan buat saya (jika belum layak menyematkan predikat sebagai Bunda), buat siapapun yang membaca ini semoga kita termasuk hamba yang senantiasa mengambil hikmah positif dibalik setiap kejadian.
See u at the other story, Insyaalloh J









Sabtu, 07 April 2012

Cerpen Anak Pertamaku yang tembus media tahun 2005


Mata Pena

Hari ini Rusdi datang dengan menenteng kotak pena baru, dengan bangga dia memamerkan kotak pena itu pada teman – temannya. Semua temannya sangat menyukai benda yang berada didalamnya. Kotak pena itu terasa istimewa karena hanya berisi sebuah pena saja. Pena yang sangat bagus, berwarna biru metalik dengan pelet keemasan, semuanya merasa sangat suka.
Ada Dania yang cerewet, Dodi yang suka sekali ngisengin teman, Danu yang baik hati, Lastri yang suka sekali membawa bekal mi buat makan siang di sekolah, bahkan Livia yang tak pernah perduli dengan apapun yang terjadi di sekelilingnya ikut berebut melihat kotak pena Rusdi.
"Bagus sekali kotak penamu Rus?" ucap Dania.
"Jelas dong! Punya Rusdi!"
"Dapat hadiah ya?" kata Danu menimpali.
"Iya! Kemarin Papaku datang dari Australi, nah aku dibawa-in oleh – oleh ini, coba kalian lihat dengan seksama, lihat!" ujar Rusdi sambil menunjuk ke arah batang pena yang berwarna biru.
Semua mata melihatnya dengan penasaran, Rusdi mengambilnya dan menggerak – gerakkan secara memutar, semua mata itu masih mencari – cari keistimewaan yang diceritakan oleh Rusdi.
"Apanya yang istimewa?" seru Livia.
"Wah, kalian tidak lihat ya? Ada gambar kanggurunya yang kelihatan hanya jika tertimpa cahaya."
"Wow!" semua mulut terbuka menyerukan keheranannya.
Rusdi semakin senang melihat ketakjuban teman – temannya pada pena barunya. "Bolehkah kami melihatnya dari dekat?" tanya Lastri.
Maka Rusdi pun dengan bangga mendekatkan pena itu ke pandangan teman – temannya sembari terus memutar – mutarnya, agar gambar kangguru itu terlihat pula oleh mereka.
"Woooooo..... benar! Pena-mu benar – benar bagus dech Rus!" seru Livia dipenuhi rasa takjub.
Rusdi tertawa senang, "Terimakasih Livia!" serunya.
Selesai memuji keindahan pena Rusdi, Livia pun duduk kembali di bangkunya, ia pun mulai membayangkan kalau saja papanya akan berdinas ke Australia juga, maka ia akan memesan pena beserta kotaknya yang cantik seperti punya Rusdi. Hanya saja ia akan memilih warna favoritnya, merah muda!
"Rusdi!"
"Ya, Livia! Ada apa?"
"Apakah ada pena seperti yang kau punya berwarna merah muda?"
"Wah, aku tidak tahu Livia, coba nanti pas aku pulang akan kutanyakan sama Papa, adakah pena seperti milikku yang berwarna merah muda."
"Terimakasih ya Rus. Aku suka sekali melihat penamu!"
"Hei, Livia! Apa kamu juga ingin punya pena seperti punya Rusdi?" teriak Dodi setelah diam – diam ikut mencuri dengar pembicaraan Livia dan Rusdi.
"Tentu saja! Jika Papa punya kesempatan untuk dinas ke Australia aku pasti akan memesan oleh – oleh seperti punya Rusdi! Gak apa – apa kan Rus?"
"Tentu saja tidak apa – apa!"
Dengan gusar Dodi meninggalkan mereka berdua.
Suasana gaduh terjadi seusai istirahat saat Rusdi mencari – cari kotak penanya yang baru, dia begitu panik tak menjumpai benda kesayangannya di dalam tas, di laci meja, dan dengan tergesa ia pun melapor kepada Guru pengasuh akan kehilangan kotak penanya.
Mendapat laporan itu, Guru piket langsung menuju kelas Rusdi, semua anak ikut panik dan ketakutan. Untunglah hari itu yang bertugas adalah Pak Fadlan Guru olahraga mereka yang baik hati.
"Baik anak – anak! Letakkan semua tas di atas meja kalian...."
Serentak semua anak meletakkan tas-nya di atas meja. "Kalian berbaris di samping tempat duduk kalian masing – masing!"
Harap – harap cemas mereka ingin segera mengetahui siapakah yang telah berbuat jahat pada Rusdi, menyembunyikan atau bahkan mencuri kotak pena Rusdi beserta penanya. Pak Fadlan berjalan dengan gagah melihat satu per satu tas anak – anak hingga sampailah ke meja Livia, lihat! Kotak pena itu ditemukan! Livia tergeragap, ia tak merasa mencurinya, apalagi menyimpan dalam tasnya.
"Tidak! Aku tidak mencurinya!" teriak Livia.
"Tetapi bagaimana mungkin kotak pena Rusdi bisa sampai ke dalam tasmu?" tanya Pak Fadlan bijaksana.
Livia sudah menangis jengkel karena merasa tak bersalah. "Rusdi, coba lihat apakah benar ini pena milikmu?"
Rusdi dengan tatapan mata bingung mendekat ke Pak Fadlan dan menyambut kotak penanya. Dilihatnya pena itu seperti habis dipakai dan lupa memencetnya sehingga mata pena itu masih menyembul keluar. Rusdi berbisik – bisik dengan Pak Fadlan, Livia sudah sesenggukan menekurkan kepalanya di atas meja. Pak Fadlan mengangguk – angguk, "Anak – anak, sekarang coba perlihatkan tangan kalian semua, biar Bapak memeriksa satu per satu."
Yang pertama mendapat giliran adalah Livi, dengan lemas Livia mengangkat tangannya, Pak Fadlan terus berjalan hingga sampai di meja Dodi, dengan senyum – senyum nakal setengah mengejek dia memperlihatkan tangannya.
"Tanganmu penuh coretan pena ya?"
Dodi terkejut sekali mendengar pertanyaan Rusdi. Dilihatnya tangan yang lupa dibersihkan, tertunduklah dia karena merasa malu dan ketahuan. "Kamu tau kalau mata penanya lupa kau masukkan lagi, jadi aku bisa bayangkan kalau penaku habis dipakai, dan yang memakainya adalah pencuri itu!"
"Maafkan aku...."
"Dodi, kau tak boleh memfitnah Livia, kau juga harus meminta maaf padanya. Untung, Rusdi cerdas sehingga kita bisa segera membersihkan nama Livia. Na, sekarang hukuman buat Dodi adalah mengepel kelas setiap pulang sekolah selama satu minggu J."
Semua anak tertawa senang, Dodi diam terpekur menekuri kesalahannya. Livia kembali tersenyum, dan Rusdi merasa senang karena sudah berhasil memberi pelajaran pada Dodi.